Jumat, 06 April 2012

Abreviasi (Kependekan)


ABREVIASI (KEPENDEKAN)


a.   Kedudukan abreviasi (kependekan) dalam pembentukan kata
Penelitian terhadap ilmu bahasa sudah dilakukan sejak ratusan yang lalu. Sampai pada akhirnya ilmu yang mengkaji tentang kebahasaan ini dikenal dengan ilmu Linguistik. Berbagai macam ilmu tentang kebahasaan ditemukan dan akhirnya dipelajari, mulai dari ilmu yang mempelajari bentuk terkecil bahasa itu sendiri, yaitu fon atau fonem, sampai bagian terbesar dari bentuk bahasa, yaitu wacana. Sementara itu ilmu yang mempelajari tentang proses pembentukan kata dalam sebuah bahasa dikenal dengan ilmu Morfologi.
Morfologi merupakan ilmu linguistik yang mempelajari morfem dan kombinasi-kombinasinya. Salah satu jenis ilmu dalam pembentukan kata adalah abreviasi, yaitu proses morfologis berupa pemenggalan satu atau beberapa bagian kata atau kombinasi kata sehingga jadilah bentuk baru yang berstatus kata.
Dalam proses pembentukan kata tersebut, abreviasi dapat dikatakan sangat unik karena memiliki struktur dan pola-pola tersendiri dalam membentuk sebuah komponen kata, baik dalam penulisannya maupun pengucapannya.

b.   Pengertian abreviasi (kependekan)
Abreviasi adalah proses penanggalan satu atau beberapa bagian kata atau kombinasi kata sehingga jadilah bentuk baru. Kata lain abreviasi ialah pemendekan. Hasil proses abreviasi disebut kependekan. Pengertian itu memperlihatkan bahwa dua kata atau lebih yang terbentuk sebelumnya disatukan yang kemudian sebagian leksemnya ditanggalkan, sehingga menjadi sebuah bentuk baru yang lebih kecil seperti kata. Bentuk kependekan dalam bahasa Indonesia muncul karena terdesak oleh kebutuhan untuk berbahasa secara praktis dan cepat. Kebutuhan ini paling terasa di bidang teknis, seperti cabangcabang ilmu, kepanduan, dan angkatan bersenjata.


c.      Klasifikasi bentuk-bentuk abreviasi (kependekan)
Dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, terdapat dua klasifikasi bentuk pemendekan, yaitu:
1)     Singkatan ialah bentuk singkat yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
a)     Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik di belakang tiap-tiap singkatan itu. Misalnya: Sdr, Bpk.
b)     Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas gabungan huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik. Misalnya: DPR
c)      Singkatan kata yang berupa gabungan huruf diikuti dengan tanda titik. Misalnya: kpd., tgl., dan singkatan gabungan kata yang terdiri atas tiga huruf diakhiri dengan tanda titik. Misalnya: dll., dst.
d)     Singkatan gabungan kata yang terdiri atas dua huruf (lazim digunakan dalam surat-menyurat) masing-masing diikuti oleh tanda titik. Misalnya: a.n (atas nama), u.b (untuk beliau)
e)     Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda dengan titik. Misalnya: cm, Rp.
2)     Akronim ialah singkatan dari dua kata atau lebih yang diperlakukan sebagai sebuah kata.
a)     Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal unsur-unsur nama diri ditulis seluruhnya dengan huruf kapital tanpa tanda titik. Misalnya: SIM, LIPI.
b)     Akronim nama diri yang berupa singkatan dari beberapa unsur ditulis dengan huruf awal kapital. Misalnya: Bulog, Iwapi.
c)      Akronim bukan nama diri yang berupa singkatan dari dua kata atau lebih ditulis dengan huruf kecil. Misalnya: pemilu, rudal.

Harimurti Kridalaksana mengklasifikasikan abreviasi ke dalam lima jenis, yaitu:
1)   Singkatan
Arti singkatan dalam abreviasi yaitu salah satu hasil proses pemendekan yang berupa huruf atau gabungan huruf, baik yang dieja huruf demi huruf, seperti:
-   FSUI (Fakultas Sastra Universitas Indonesia),
-   DKI (Daerah Khusus Ibukota, dan
-   KKN( Kuliah Kerja Nyata),
maupun singkatan yang tidak dieja huruf demi huruf, seperti:
-   dll. (dan lain-lain),
-   dgn. (dengan),
-   dst. (dan seterusnya)
2)     Penggalan
Arti penggalan dalam abreviasi yaitu proses pemendekan yang menghilangkan salah satu bagian dari kata seperti:
-   Prof. (Profesor)
-   Bu (Ibu)
-   Pak (Bapak)
3)     Akronim
Arti akronim dalam Abreviasi yaitu proses pemendekan yang menggabungkan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai sebuah kata yang memenuhi kaidah fonotaktik Indonesia, seperti:
-   ABRI /abri/ dan bukan /a/, /be/, /er/, /i/
-   AMPI /ampi/ dan bukan /a/, /em/ /pe, /i/
4)     Kontraksi
Arti kontraksi dalam abreviasi yaitu proses pemendekan yang meringkaskan kata dasar atau gabungan kata, seperti:
-   tak dari tidak
-   sendratari dari seni drama dan tari
-   berdikari dari berdiri di atas kaki sendiri
-   rudal dari peluru kendali
5)     Lambang huruf
Arti Lambang huruf yaitu proses pemendekan yang menghasilkan satu huruf atau lebih yang menggambarkan konsep dasar kuantitas, satuan atau unsur, seperti:
-   g (gram)
-   cm (sentimeter)
-   Au (Aurum)

Selain itu, terdapat beberapa ahli bahasa yang mencoba mengklasifikasikan proses pemendekan atau abreviasi ini, yaitu salah satunya adalah suwardi Notosudirjo yang mengklasifikasikannya menjadi beberapa jenis, yaitu sebagai berikut.
a.       Singkatan Mutlak atau Inisial
Singkatan multak adalah bentuk pemendekan dengan mengambil huruf permulaan dari tiap-tiap kata.
Contoh: ITB (Institut Teknologi Bandung)
b.      Singkatan Mutlak Selang Seling
Singkatan multak selang seling merupakan bentuk pemendekan yang kadang-kadang secara kebetulan selang seling antara vocal dan konsonan.
Contoh: OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah)
c.       Akronim
Akronim adalah pemendekan berupa suku-suku kata atau potongan-potongan kata.
Contoh: Danton (Komandan Peleton)
d.      Singkatan Campuran
Contoh : PENAL (Penerangan Angkatan Laut)







Semoga Sukses

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar